travel drama (1)

When we are at home we tend to become a little bit lazy. But when we travel we just love to see how far we can push ourselves – Dave & Deb.

Karena sudah hampir tiga tahun dan sebentar lagi mungkin akan terlupakan.. jadi ada lebih baiknya saya menuliskan drama-drama eurotrip pertama saya. Dan instead of sharing lesson learned during my traveling, this time I  would like to tell all my silly  stories. Sayangnya semua sillinessnya itu tentang mengejar-ngejar  bus, kereta, dan pesawat, lol. And why was that? It was simply because my friend, Sally,  and I  thought that we could stop the time, lol.

Cerita #1 – Pernah tertinggal bus saat ingin ke London, saya dan teman saya pun memutuskan untuk membeli tiket megabus paling pagi menuju Birmingham International Airports (BIA). Waktu tempuh Leeds- BIA sendiri sekitar 3 jam 45 menit. Itu artinya kami akan tiba di BIA 3 jam sebelum waktu penerbangan. Spare waktu yang sangat aman bukan?? Sayangnya ditengah-tengah perjalanan bus yang terlihat baik-baik saja itu terpaksa harus diistirahatkan  dan kamipun harus menunggu bus pengganti. Satu jam berlalu, bus pengganti tidak juga datang, padahal waktu tempuh menuju BIA masih 2 jam lagi. Tidak mau tertinggal pesawat, kamipun mulai panik dan menghubungi satu persatu perusahan taxi. Yang menjadi masalah adalah rest area yang kami singgahi berada di pinggir jalan tol antara Manchester dan New Castle sehingga menyebabkan banyak taxi yang kami hubungi enggan untuk menjemput. As to reach us, it would take around 20 mins. Beruntung kemudian ada taxi yang sedang berada di seberang jalan tol bersedia untuk menjemput kami. Akan tetapi untuk mempersingkat waktu, si bapak taxi menyarankan kami untuk bertemu di seberang jalan tol. Senang, kamipun hampir nekat lari menyeberang jalan tol yang sangat lebar untuk menghampiri bapak taxi. Untungnya saat sedang menyiapkan mental untuk menyeberang, kami melihat sebuah skywalk yang menghubungkan antara salah satu gedung yang ada di rest area dengan gedung yang berada di seberang jalan. Dan melalui gedung itulah, cara paling aman untuk sampai ke bapak taxi.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading “travel drama (1)”

penambahan nama di paspor

Jadi ceritanya dulu saya pernah memproses penambahan nama di paspor lama. Ketika ingin melakukan penambahan nama lagi di paspor yang baru, I totally forgot how to do it. I could not recall in which immigration office I applied for the process, whether I did it by myself or asking passport agency for assistance, how long the process, blablabla… (I am indeed getting older, lol). Nah, in order to reduce the risk of ‘short memory syndrome’ in the future,  jadi lebih baik saya mendokumentasikan proses yang 2 minggu yang lalu saya lalui disini.

Kantor Imigrasi yang saya tuju kemarin adalah Kanim Jakarta Selatan yang terletak di Warung Buncit. Penambahan nama sendiri dapat dilakukan melalui meja informasi, dengan terlebih dahulu menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti formulir penambahan nama yang sudah diisi dan bermeterai (formulir lengkap dengan metereinya bisa didapatkan di koperasi yang terletak dilantai yang sama dengan tempat pengurusan paspor), KK, dan surat rekomendasi dari biro umroh semisal untuk keperluan umroh (thought this one was optional, but as I had the letter and did not want to keep it, I gave it to the officer).

Like I said before, saya benar-benar tidak dapat mengingat proses dan durasi penambahan nama di paspor lama saya. Googling-googling dan mendapati indikasi kalo prosesnya akan sedikit ribet dan berhari-hari, saya sempat hampir menghubungi agen untuk meminta membantu proses penambahan nama tersebut. Syukurnya karena beberapa pertimbangan, saya mengurungkan niat tersebut. And I was very happy  in witnessing that proses penambahan nama di Kanim Jaksel tidak ribet sama sekali. Jangankan harus menunggu 1 hari dan bolak-balik ke Kanim, tidak sampai 15 menit paspor saya sudah dikembalikan. Bukan karena ada kesalahan atau kekurangan berkas, namun karena ternyata permohonan penambahan nama tersebut diproses dengan sangat cepat. Satu lagi hal yang menggembirakan adalah  tidak ada pungutan biaya sama sekali alias gratis 🙂

reiskaart – travel map

Since I never have a good relationship with coding (lol), I am a bit lucky finding gmap has mymaps feature (ooh.. so late,lol). Thus, I just need to work with the vectors on ArcMap and bring the layers to https://www.google.com/maps/d/. In order to generate travel/flow line layer, departure and destination points are required. The tool employed in this process could be found under Arctoolbox –   Data Management Tools – Features – XY to line.  

And here we go.. my travel map between 2011 and 2016.

about innovation

Aww… found a note taken by me while attending SCI seminar in Leeds. Was 2 years ago but still worth reading.

Contemplative opening was revealed by Dr. Tampubolon, research fellow at University of Manchester. With ‘Innovation in Indonesia: Envisioning the Future’ as the title of his presentation, Dr. Tampubolon tried to open our eyes and mind, that Indonesia was not an Asian tiger as we often heard. Various data, particularly innovation related data, were presented to oppose this Asian tiger or other golden pronouncements. So, why was innovation? Again, according to him, innovation was an indicator that could tell where Indonesia was going to be from 30 years from now on.  He also mentioned four future technologies: biotechnology, nanotechnology, ICT, and green technology that in these realms, innovation in Indonesia was not only stagnant at low level but also lagged far behind in comparison to other Asian countries. Compared to China, for example, innovation in Indonesia was only 0.1 relative to this country.

There were at least two evidences to reveal these dismal innovation performances. The first one was education performance: inequality, quantity, and quality.  Not all Indonesian fulfilled certain formal educational level. During 1992 – 2012, more than 75% of Indonesian children tended to finish primary school. However, there was a significant drop, to below 50%, in the number of Indonesian children going to post-primary school. Continue reading “about innovation”

a moment to remember

27 July

He said “I apologise.” “Yaa..” was the only word coming out from my mouth. That was the very first time I had decent talk with him after 7 months. After defending myself that my competences, qualifications, and also personality would not be suitable to be put in a post like he wished, I thought it would be very hard to normally act and to talk to him like I used to.

7 months before

There was nothing wrong with that post eventhough I heard so many times that the post was quite horrible. I did not even really care when some colleagues felt sorry for me. The only issue I had was I owned huge energy at that time.  I really wanted to be (nearly, as some said it was not possible for civil servant to be) professional and expert on something. As I knew some stories about the post, the jobdesc, and also the working environment, I therefore made an early conclusion that being in that post would not be in line with my plan. Besides, no one knew how long I would be there.

Long story short, it was not too difficult for me to adapt in the new environment. For some reasons, however, it still was hard to accept the circumstance.

27 July was the brightest morning ever for me. And hopefully the upside-down in the first semester of 2016 would gradually be back to normal. And here are some lessons I got during the assignation: Continue reading “a moment to remember”

Rumah Sakit

Hari ini saya mengunjungi rumah sakit yang berada di bilangan Salemba. Rumah sakit yang konon katanya terbesar dan terbaik di negeri ini ternyata masih jauh dari baik dalam hal keramahan pegawainya. Khas rumah sakit/ instansi pemerintah sebenarnya.

Tapi bukan keramahan, pelayanan ataupun fasilitas rumah sakit tersebut yang ingin saya tuliskan disini.

Melainkan,

Melihat lalu lalang pasien yang duduk di kursi roda, mendengar sepintas obrolan antar pasien yang menceritakan sakitnya yang bahkan saya tidak pernah tau ada sakit seperti itu atau mendengar betapa menyebalkannya proses membuat rujukan dari puskesmas. Rasanya tak perlu muluk-muluk untuk menunggu bersyukur. Karena nikmat sehat dan selamat yang kita punya sungguh merupakan kemewahan bagi mereka. Dan seringnya kita lupa akan hal tersebut.

Sharing: StuNed scholarship

Belum lama berandai-andai ingin berlibur di pertengahan tahun 2015 dan berdoa agar tetap bersemangat mencari ilmu (not necessarily taking Phd), sampailah saya pada sebuah halaman disalah satu situs berita nasional yang menginformasikan telah dibukanya pendaftaran seleksi beasiswa StuNed (program master dan short course (SC)) dari Pemerintah Belanda. Kesempatan yang sangat sayang untuk disia-siakan ini akhirnya saya ambil. Dengan sedikit drama, banyak keberuntungan dan bantuan dari banyak pihak akhirnya alhamdulillah terpilih juga saya menjadi salah satu StuNed Awardee.

a

StuNed-SC highlights and behind the process

Continue reading “Sharing: StuNed scholarship”