Summer in Bergen

Saat winter, mendekat ke kutub utara, bermain dog sledding dan menantikan aurora. Begitulah ideal Scandinavia trip yang saya idam-idamkan dari dulu. Tapi ternyata another summer triplah yang menjadi rezeki saya. Thus, as it was a summer time, I decided to have a short visit (3D2N) in Bergen before attending a conference in Helsinki. Jadi kenapa Bergen, it was simply because I heard its name many times from friend of friends working for petroleum industry in that city, lol.

Ke Bergen ini harus bersakit-sakit dahulu, berenang-renang kemudian. Well it’s not that extreme, of course. Tapi untuk turis jauh yang tidak mempunyai slot hari yang cukup banyak, saya sempat berpikir dua kali untuk memasukan Bergen ke dalam itinerary dikarenakan tidak adanya penerbangan langsung dari Helsinki. Namun karena sudah tergiur dengan foto-foto keindahan fjord, 4 jam perjalanan termasuk singgah  di Oslo Gardemoen Airport yang sangat kental dengan wooden stylenya pun saya tempuh. Dan lamanya perjalanan tersebut langsung terbayar dengan landscape pegunungan yang menawan sekeluarnya dari Bergen Airport.

Lille Lungegårdsvannet dan Torgalmenningen

Oiya, karena tarif hotel di Bergen sangatlah mahal, sayapun memilih untuk mencoba menyewa apartemen yang tidak terlalu jauh dari centrum melalui airbnb. And that was a good decision as it only costed half of standard hotel room price. Lumayan banget kan… Dan untuk menuju ke centrum saya menggunakan shuttle yang tersedia di airport. Shuttle tersebut berhenti di dekat Lille Lungegårdsvannet yang merupakan taman seluas 2 hektar yang didalamnya terdapat danau. Di seberang Lille Lungegårdsvannet, akan didapati Torgalmenningen yang merupakan main square-nya Bergen. Like other main squares, disini banyak ditemui resto, cafe, dan toko-toko.

IMG_1386.JPG

Selalu ada drama

Setelah lunch dan berkeliling sebentar di Torgalmenningen,  sayapun menuju  apartemen yang sudah disewa. Dan disinilah drama terjadi – mencari-cari kunci apartemen. Jadi ceritanya agen yang menyewakan apartemen tidak dapat menemui dan memberikan kuncinya langsung kepada saya saat check in. Sehari sebelum check in mereka memberikan beberapa petunjuk dimana saya dapat menemukan kunci dan letak unit apartemen yang akan saya tinggali. Beberapa petunjuk tersebut antara lain kunci disimpan didalam box dibelakang gedung apartemen dan pin untuk membuka box tersebut. Yang langsung terbayang dibenak saya ketika disebutkan box adalah deretan kotak surat. Sudah mengelilingi gedung berkali-kali, bertanya kepada penjual toko disamping apartemen, sayangnya tidak ada yang mengetahui keberadaan box yang dimaksud. Hingga akhirnya datanglah seorang penghuni apartemen yang berbaik hati menunjukkan box yang saya cari. Dan ternyata… box tersebut adalah sebuah box hitam berukuran sangat kecil sekitar 10 cm x 10 cm yang tertempel di dinding samping belakang apartemen (not exactly di belakang ternyata). Ada dua box hitam disitu. Kecil, tidak terlihat, dan lebih mirip kotak sekering listrik, lol.

IMG_1437[1]

Fisketorget

Oke back to the topic. Selain Lille Lungegårdsvannet dan Torgalmenningen tempat lainnya yang saya kunjungi adalah Fisketorget atau fish market. Fisketorget yang langsung menghadap North Sea ini letaknya masih disekitaran centrum. What could I enjoy in Fisketorget antara lain food street yang menyajikan berbagai macam seafood mulai dari salmon, cod, dan hiu. Nah apabila kurang nyaman makan ala-ala kaki lima karena angin yang terlalu dingin atau matahari yang terlalu menyilaukan, terdapat indoor Fisketorget yang merupakan seafood store dan resto dengan tempat yang lebih representative. Harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan yang dikaki lima. Namun soal kelezatan dan presentasi lebih unggul. Oiya saat makan di sini pengunjung juga dipinjami selimut untuk menghangatkan diri.

IMG_1410.JPG

Di atas indoor Fisketorget ini terdapat tourist information centre. Selain memberikan informasi tentang tempat-tempat wisata di Bergen, ditempat ini jugalah penjualan Bergen card dan paket-paket tour dilayani. Walaupun mempunyai banyak counter, Oiya, punya Bergen card ini lumayan banget untuk menghemat pengeluaran lho… selain bisa dipake untuk free bis kota, free hop on – hop off, diskon makan, diskon memasuki tempat wisata dan mengikuti paket-paket tour tertentu, etc.

Bryggen (Old town)

Nah di seberang Fisketorget, masih di waterfrontnya, Bryggen yang juga merupakan Unesco World Cultural Heritage sites berada. Dahulu Bryggen menjadi pusat perdagangan bagi para saudagar Jerman. Kini deretan bangunan-bangunan kayu tua di Bryggen lebih banyak digunakan sebagai pertokoan, cafe, museum dan juga hotel.

WhatsApp Image 2018-01-10 at 3.37.28 PM

Mount Fløyen

Disinilah tempat untuk melihat Bergen dari atas. Untuk sampai ke Mount Fløyen you can either hike or take a funicular.

WhatsApp Image 2018-01-10 at 3.35.50 PM

Continue reading “Summer in Bergen”

Advertisements

Apple Pie

apple pie

One of my gettable resolutions for 2018 is to write more on this blog and bake more. So, to start with I would like to share a secret recipe in making an apple pie. This recipe had been tasted by all my family members and they happily said – without any intimidations of course – that the pie was totally delicious, lol. Yeay!!

Ingredients

Pie crust

200 gr all-purpose flour

100 gr butter

1 egg

1 tbs cold water

Apple filling

4 apples (I used local apple – manalagi apple) and cut them into small blocks.

1 tsp cinnamon powder

100 gr brown sugar

1 tbs butter

1 tbs corn flour

Directions

  1. To make a short-crust pastry, by your hand whisk together all purpose flour and butter into a mixture. Add an egg and cold water into the mixture and fold them together. Wrap the dough in plastic wrap for around 15 – 30 minutes before using it.
  2. To make an apple filling, on medium fire, melt the butter then add brown sugar. Stir together until the sugar melted. Add the apple blocks, cinnamon powder and corn flour. Simmer them until the apple a bit soft.
  3. Divide the pastry into 3:1. Roll out the ¾ pastry and place it into the pie plate then pour the apple filling into it. Roll out the remaining pastry, cut into several pieces and make some braids to cover the pie.
  4. To give shiny effect, brush the braids by using beaten egg yolk.
  5. Oven the pie on preheated oven for 20 – 30 minutes. I used 1800 c temperature.
  6. The apple pie is ready to be served. Enjoy!!

Chickenpox drama (cacar diusia dewasa)

Meskipun sering mendengar bahwa cacar setidaknya akan menyerang sekali seumur hidup, memiliki kekebalan dari virus varicella simplex sewaktu kecil, membuat saya berpikir akan aman dari serangan virus yang menyebabkan cacar. Tapi ternyata cacar datang tidak diduga-duga yaaa dan di usia 25 tahun 31 tahun.

Berawal dari satu bentol berair yang saya kira jerawat, kemudian bertambah satu lagi dan lagi dengan penambahan yang tidak cukup signifikan, demam dan mualpun saya rasakan dihari keempat setelah bentol pertama. Hasil bertanya sana-sini, browsing sana-sini… semuanya mengindikasikan kalau saat itu saya terkena cacar. What?? Nooo!!! Dua hari lagi saya akan ke lapangan. Dan satu setengah bulan lagi saya harus menghadiri international conference. Kedua kegiatan tersebut sangatlah penting bagi saya.

Setelah demam turun dan mual tidak lagi terasa, keesokan harinya saya mendatangi sebuah klinik. That was a small 24 hours clinic. I got it from google as at that time was a long weekend and I thought no hospitals were opened, lol.  Setelah mendaftar, keluarlah seorang dokter dengan gayanya yang tidak meyakinkan. Singkat ia menanyakan keluhan dan memeriksa saya. He said, “iya, cacar.” Lalu ia pergi begitu saja. It was like… what? wait I need to consult some things like do’s and don’ts. Terpaksalah saya berkonsultasi dengan resepsionis yang sekaligus peracik obat. Saat melakukan pembayaran, si dokter kembali muncul dan yang muncul dipikiran saya adalah menanyakan apakah memungkinkan untuk melaksanakan perjalanan dinas selama kurang lebih dua minggu dengan mayoritas kegiatan yang akan dilaksanakan adalah outdoor activity.  Dan yes, I got an answer that I wanted. The doctor said, “iya, ga papa. Asal nanti pakai masker aja.” Continue reading “Chickenpox drama (cacar diusia dewasa)”

travel drama (1)

When we are at home we tend to become a little bit lazy. But when we travel we just love to see how far we can push ourselves – Dave & Deb.

Karena sudah hampir tiga tahun dan sebentar lagi mungkin akan terlupakan.. jadi ada lebih baiknya saya menuliskan drama-drama eurotrip pertama saya. Dan instead of sharing lesson learned during my traveling, this time I  would like to tell all my silly  stories. Sayangnya semua sillinessnya itu tentang mengejar-ngejar  bus, kereta, dan pesawat, lol. And why was that? It was simply because my friend, Sally,  and I  thought that we could stop the time, lol.

Cerita #1 – Pernah tertinggal bus saat ingin ke London, saya dan teman saya pun memutuskan untuk membeli tiket megabus paling pagi menuju Birmingham International Airports (BIA). Waktu tempuh Leeds- BIA sendiri sekitar 3 jam 45 menit. Itu artinya kami akan tiba di BIA 3 jam sebelum waktu penerbangan. Spare waktu yang sangat aman bukan?? Sayangnya ditengah-tengah perjalanan bus yang terlihat baik-baik saja itu terpaksa harus diistirahatkan  dan kamipun harus menunggu bus pengganti. Satu jam berlalu, bus pengganti tidak juga datang, padahal waktu tempuh menuju BIA masih 2 jam lagi. Tidak mau tertinggal pesawat, kamipun mulai panik dan menghubungi satu persatu perusahan taxi. Yang menjadi masalah adalah rest area yang kami singgahi berada di pinggir jalan tol antara Manchester dan New Castle sehingga menyebabkan banyak taxi yang kami hubungi enggan untuk menjemput. As to reach us, it would take around 20 mins. Beruntung kemudian ada taxi yang sedang berada di seberang jalan tol bersedia untuk menjemput kami. Akan tetapi untuk mempersingkat waktu, si bapak taxi menyarankan kami untuk bertemu di seberang jalan tol. Senang, kamipun hampir nekat lari menyeberang jalan tol yang sangat lebar untuk menghampiri bapak taxi. Untungnya saat sedang menyiapkan mental untuk menyeberang, kami melihat sebuah skywalk yang menghubungkan antara salah satu gedung yang ada di rest area dengan gedung yang berada di seberang jalan. Dan melalui gedung itulah, cara paling aman untuk sampai ke bapak taxi.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading “travel drama (1)”

penambahan nama di paspor

Jadi ceritanya dulu saya pernah memproses penambahan nama di paspor lama. Ketika ingin melakukan penambahan nama lagi di paspor yang baru, I totally forgot how to do it. I could not recall in which immigration office I applied for the process, whether I did it by myself or asking agen paspor for assistance, how long the process, blablabla… (I am indeed getting older, lol). Nah, in order to reduce the risk of ‘short memory syndrome’ in the future,  jadi lebih baik saya mendokumentasikan proses yang 2 minggu yang lalu saya lalui disini.

Kantor Imigrasi yang saya tuju kemarin adalah Kanim Jakarta Selatan yang terletak di Warung Buncit. Penambahan nama sendiri dapat dilakukan melalui meja informasi, dengan terlebih dahulu menyerahkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti formulir penambahan nama yang sudah diisi dan bermeterai (formulir lengkap dengan metereinya bisa didapatkan di koperasi yang terletak dilantai yang sama dengan tempat pengurusan paspor), KK, dan surat rekomendasi dari biro umroh semisal untuk keperluan umroh (thought this one was optional, but as I had the letter and did not want to keep it, I gave it to the officer).

Like I said before, saya benar-benar tidak dapat mengingat proses dan durasi penambahan nama di paspor lama saya. Googling-googling dan mendapati indikasi kalo prosesnya akan sedikit ribet dan berhari-hari, saya sempat hampir menghubungi agen untuk meminta membantu proses penambahan nama tersebut. Syukurnya karena beberapa pertimbangan, saya mengurungkan niat tersebut. And I was very happy  in witnessing that proses penambahan nama di Kanim Jaksel tidak ribet sama sekali. Jangankan harus menunggu 1 hari dan bolak-balik ke Kanim, tidak sampai 15 menit paspor saya sudah dikembalikan. Bukan karena ada kesalahan atau kekurangan berkas, namun karena ternyata permohonan penambahan nama tersebut diproses dengan sangat cepat. Satu lagi hal yang menggembirakan adalah  tidak ada pungutan biaya sama sekali alias gratis 🙂

reiskaart – travel map

Since I never have a good relationship with coding (lol), I am a bit lucky finding gmap has mymaps feature (ooh.. so late,lol). Thus, I just need to work with the vectors on ArcMap and bring the layers to https://www.google.com/maps/d/. In order to generate travel/flow line layer, departure and destination points are required. The tool employed in this process could be found under Arctoolbox –   Data Management Tools – Features – XY to line.  

And here we go.. my travel map between 2011 and 2016.

about innovation

Aww… found a note taken by me while attending SCI seminar in Leeds. Was 2 years ago but still worth reading.

Contemplative opening was revealed by Dr. Tampubolon, research fellow at University of Manchester. With ‘Innovation in Indonesia: Envisioning the Future’ as the title of his presentation, Dr. Tampubolon tried to open our eyes and mind, that Indonesia was not an Asian tiger as we often heard. Various data, particularly innovation related data, were presented to oppose this Asian tiger or other golden pronouncements. So, why was innovation? Again, according to him, innovation was an indicator that could tell where Indonesia was going to be from 30 years from now on.  He also mentioned four future technologies: biotechnology, nanotechnology, ICT, and green technology that in these realms, innovation in Indonesia was not only stagnant at low level but also lagged far behind in comparison to other Asian countries. Compared to China, for example, innovation in Indonesia was only 0.1 relative to this country.

There were at least two evidences to reveal these dismal innovation performances. The first one was education performance: inequality, quantity, and quality.  Not all Indonesian fulfilled certain formal educational level. During 1992 – 2012, more than 75% of Indonesian children tended to finish primary school. However, there was a significant drop, to below 50%, in the number of Indonesian children going to post-primary school. Continue reading “about innovation”