tersisa beberapa hari lagi. iya hitungan hari, tak lagi bulan. deadline pun sudah saya mundurkan satu minggu. bukannya mencari aman, tapi untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. sebagai alasan untuk melakukan berbagai penundaan juga masuk akal
dan sebulan yang lalu, sejak saya tau, hingga hari inipun saya masih bertanya-tanya.. mungkinkah? dapatkah saya mengejar? mungkin jika bagaimana kondisinya? tidak untuk yang bagaimana kondisinya?
“mungkin lagi yah.. untuk mencapai itu kita cuma butuh 3 minggu alias 21 hari. nih, aku baru baca dibuku ini..” kata seorang teman sambil menunjukkan sebuah buku ketika kami sama-sama transit disalah satu halte busway awal bulan ini. saya kembali berseri ketika mendengar kata ‘mungkin’ darinya. ahyaa.. simpel, namun itu pendongkrak semangat bagi saya. hei.. ada lagi yang memanggil saya ‘yah’ bukan ‘di’… agak-agak lucu, baiknya saya mulai mengklasifikasikan tipe orang yang memanggil saya dengan ‘yah’ ataupun ‘di.’
saya pun mulai mengumpulkan informasi, me-list pertanyaan-pertanyaan dari informasi yang sudah saya dapat, hingga mencari referensi dan sumber-sumber yang dapat menunjang apa yang akan saya lakukan. dan alhamdulillah mereka semua sangat cooperative dan membuat saya yakin bahwa semua itu mungkin. masalah justru muncul pada pekerjaan kantor. awalnya saya hanya mengeplot 3 hari akan berada diluar kota, namun diluar perkiraan 3 hari itu malah menjadi 2 minggu. sabtu-minggu kembali ke jakarta digunakan untuk refreshing. membayar tidur yang kurang, bertemu dengan ortu yang sedang singgah di jakarta dalam keadaan masih terkantuk-kantuk, ngopi buku, dan hang out bareng teman berbekal buku tapi tetep direcokin dengan pembahasan itinerary liburan taun depan yang masih lama x_x.
akhir kata, adalah betulan ‘magic’ jika saya dapat melalui keadaan ini dengan baik. hei, untuk kasus ini memang ada pernyataan ‘there is no magic way.’ walaupun ada strategi yang sudah teruji dan hmm.. dengan estimasi waktu yang hanya 21 hari itu. tapi sebenarnya 21 hari bukan magic way lho.. jelas kok sequencenya. apalagi jika berniat mengalokasikan extra time. (semoga ‘magic’ yang dimaksud sipembuat pernyataan tersebut adalah magic yang dalam hitungan kedipan mata).kutipan bijak yang sudah sedikit dimodifikasi lagi nih, “untuk kebahagiaan diri sendiri haruslah kita mau berjuang. pohon besar saja yang jika setiap hari kita kapak beberapa kali pasti akan tumbang. demikian juga dengan usaha yang sedang kita lakukan.”
mungkin dan tidak mungkin masih menari-nari dalam benak saya.
ayo lakukan saja. berikan yang maksimal dan yang terbaik dalam waktu yang masih tersisa ini. lebih disiplin lagi. dan jangan lupa untuk menyertakan Allah dalam setiap usaha termasuk mengharap ridhonya.
