adalah manusiawi ketika kita gagal-tidak berhasil. dan terkadang saya membuat semacam ‘perayaan’ kecil untuknya, agar tak berlarut-larut dan memberikan sedikit apresiasi atas proses dan usaha yang telah terlalui.
namun,
jika gagal untuk sesuatu yang sangat-sangat diinginkan, apa iya harus dirayakan juga?
mungkin cara terbaik untuk merayakannya adalah dengan meminta agar Allah mendamaikan hati ini sesuai dengan ketentuan-Nya.
Lelah kuberjalan menelusuri hari,
Menunggu sesuatu tuk melupakanmu,
Wajah-wajah telah datang dan telah pergi,
Tetap kusendiri dan merindukanmu…
Ku ingin mengerti, bahwa rasa itu bisa berhenti…
Yang aku tunggu, masih kucari,
Yang aku tunggu, tuk hilangkan rasa sepi
Akan aku tunggu, datangnya hari,
Ku kan menunggu, saatnya jatuh cinta lagi…
Kulihat wajahmu di bayang embun pagi,
Ku dengar suaramu dihembusan bayu,
Mungkinkah kembali hati yang telah pergi,
Mekarkah kembali bunga yang telah layu…
Kan ku coba mengerti, bahwa rasa itu bisa berganti…
Yang aku tunggu, masih kucari,
Yang aku tunggu, tuk hilangkan rasa sepi
Akan aku tunggu, datangnya hari,
Ku kan menunggu, saatnya jatuh cinta lagi…
Akan kutunggu, masih percaya,
Aku menunggu, rasa itu pasti kan tiba..
Tetap kutunggu, tak kan berhenti,
Ku kan menunggu… Saatnya jatuh cinta lagi..
Jangan lepas lagi..jangan sampai hilang,
Nanti akan tiba,nanti pasti datang… —anggun.
tersisa beberapa hari lagi. iya hitungan hari, tak lagi bulan. deadline pun sudah saya mundurkan satu minggu. bukannya mencari aman, tapi untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. sebagai alasan untuk melakukan berbagai penundaan juga masuk akal
dan sebulan yang lalu, sejak saya tau, hingga hari inipun saya masih bertanya-tanya.. mungkinkah? dapatkah saya mengejar? mungkin jika bagaimana kondisinya? tidak untuk yang bagaimana kondisinya?
“mungkin lagi yah.. untuk mencapai itu kita cuma butuh 3 minggu alias 21 hari. nih, aku baru baca dibuku ini..” kata seorang teman sambil menunjukkan sebuah buku ketika kami sama-sama transit disalah satu halte busway awal bulan ini. saya kembali berseri ketika mendengar kata ‘mungkin’ darinya. ahyaa.. simpel, namun itu pendongkrak semangat bagi saya. hei.. ada lagi yang memanggil saya ‘yah’ bukan ‘di’… agak-agak lucu, baiknya saya mulai mengklasifikasikan tipe orang yang memanggil saya dengan ‘yah’ ataupun ‘di.’
saya pun mulai mengumpulkan informasi, me-list pertanyaan-pertanyaan dari informasi yang sudah saya dapat, hingga mencari referensi dan sumber-sumber yang dapat menunjang apa yang akan saya lakukan. dan alhamdulillah mereka semua sangat cooperative dan membuat saya yakin bahwa semua itu mungkin. masalah justru muncul pada pekerjaan kantor. awalnya saya hanya mengeplot 3 hari akan berada diluar kota, namun diluar perkiraan 3 hari itu malah menjadi 2 minggu. sabtu-minggu kembali ke jakarta digunakan untuk refreshing. membayar tidur yang kurang, bertemu dengan ortu yang sedang singgah di jakarta dalam keadaan masih terkantuk-kantuk, ngopi buku, dan hang out bareng teman berbekal buku tapi tetep direcokin dengan pembahasan itinerary liburan taun depan yang masih lama x_x.
akhir kata, adalah betulan ‘magic’ jika saya dapat melalui keadaan ini dengan baik. hei, untuk kasus ini memang ada pernyataan ‘there is no magic way.’ walaupun ada strategi yang sudah teruji dan hmm.. dengan estimasi waktu yang hanya 21 hari itu. tapi sebenarnya 21 hari bukan magic way lho.. jelas kok sequencenya. apalagi jika berniat mengalokasikan extra time. (semoga ‘magic’ yang dimaksud sipembuat pernyataan tersebut adalah magic yang dalam hitungan kedipan mata).kutipan bijak yang sudah sedikit dimodifikasi lagi nih, “untuk kebahagiaan diri sendiri haruslah kita mau berjuang. pohon besar saja yang jika setiap hari kita kapak beberapa kali pasti akan tumbang. demikian juga dengan usaha yang sedang kita lakukan.”
mungkin dan tidak mungkin masih menari-nari dalam benak saya.
ayo lakukan saja. berikan yang maksimal dan yang terbaik dalam waktu yang masih tersisa ini. lebih disiplin lagi. dan jangan lupa untuk menyertakan Allah dalam setiap usaha termasuk mengharap ridhonya.
Wahai… Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu
Tuhan… Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu
Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi….
Muhasabah cintaku…
Tuhan… Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu
Mereka bilang begini, “ngga usah terlalu ngoyo.” Ada juga yang lucu seperti ini, “udah lo cari aja suami yang kerjanya di (menyebutkan merk :p). Jadi lo ngga usah pusing-pusing lagi ama kantor, kerjaan, sekolah, blabla.. Lo tinggal terima beres aja,” tentu saja yang bilang begitu teman laki-laki,hehe.. Yang lain bilang begini, “you’ll get what you want. Don’t push yourself too hard. Relax, take it easy.”
Hmm.. Begitu terlihat ngoyokah saya? Sebenernya yang tau saya betulan ngoyo atau tidaknya hanyalah Tuhan dan saya sendiri saya paham betul untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu setidaknya dibutuhkan daya dan usaha yang lebih.
Dan saya tau dan menyadari kalau sebenarnya usaha saya belum seberapa kok, bahkan terkadang seperti tidak ada apa-apanya. Belum lagi karena saya tidak sabaran. Jujur, saya justru ingin merasakan apa yang namanya maksimal itu.
Saya hanya ingin dan mencoba bertanggung jawab atas keinginan-keinginan saya sendiri. Setelah sekian lama entah kemana. itu saja.
saya sampai lagi di Makassar pukul 05.30 pagi. setelah beristirahat di kos teman, pukul 10.00 saya memulai perjalanan ke Tanjung Bira. dimana Tanjung Bira itu? Tanjung Bira adanya di Bulukumba, sekitar 5 jam dari Makassar. dan kenapa Tanjung Bira? ceritanya beberapa tahun yang lalu saya pernah liat tayangan wisata Bulukumba di tv, tapi lupa nama tempat wisatanya apa. nah berhubung yang populer di Bulukumba itu Tanjung Bira, maka dengan penuh keyakinan sayapun melakukan perjalanan kesana. oiya, kali ini saya tidak sendiri, tapi bersama seorang teman.
Kulepas semua yang kuinginkan
Tak akan ku ulangi
Maafkan jika kau ku sayangi
Dan bila ku menanti
Pernahkah engkau coba mengerti
Lihatlah ku disini
Mungkinkah jika aku bermimpi
Salahkah tuk menanti
Tak kan lelah aku menanti
Tak kan hilang cinta ku ini
Hingga saat kau tak kembali
Kan ku kenang dihati saja
Kau telah tinggalkan hati yang terdalam
Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa – Peterpan feat. Iwan Fals
* lagu dan duet yang sangat bagus jadi makin dalem
iseng browsing tentang Sulawesi Selatanlah yang kemudian mengantarkan saya ke salah satu halaman tentang Tana Toraja. hyaa.. kemudian dengan tekad yang sangat kuat, saya memutuskan bahwa saya harus bisa sampai sana. bagaimanapun caranya. mulailah saya mencari tau bagaimana cara untuk mencapai Tana Toraja, apa saja yang bisa dikunjungi, transportasi selama disana, penginapan, dan tentu saja mengatur jadwal perjalanan yang hanya 4 hari. Dari Makassar ke Tana Toraja dapat ditempuh melalui jalur udara maupun jalur darat. kalau jalur udara tentu saja dengan menggunakan pesawat cassa. namun karena jadwal kedatangan saya dan jadwal operasi si pesawat nya tidak cocok (dan karena pertimbangan biaya), akhirnya saya memutuskan untuk memilih jalur darat.
This slideshow requires JavaScript.
ada 2 pilihan, menggunakan jasa biro perjalanan atau menggunakan bus malam. awalnya saya ragu untuk menggunakan bus malam dengan alasan keamanan (bukankah tidak boleh baik wanita bepergian jauh seorang diri tanpa didampingi mahramnya?). tapi setelah teman saya yang tinggal di Makassar meyakinkan bahwa bus toraja-nya aman, berangkatlah saya menggunakan bus malam metro permai. dan benar hanya dengan membayar Rp. 100.000, saya mendapatkan keamanan dan juga kenyamanan dengan bus ini (jujur bus ini menjadi bus paling nyaman yang pernah saya tumpangi malah :p).
Pagi itu beberapa hari sebelum lebaran. Bosan, saya memeriksa list ym lalu menyapa salah seorang teman lama. Dia itu partner in crime saya waktu jaman tingkat 2 dan praktikum surveying I dulu. Sekarang? Kuantitas ngobrol dalam setahun saja masih bisa dihitung dengan jari :p
“hei, dimana lo?” basa-basi saya bertanya.
“gw lagi di cilacap, di.. eh di, lo tau ga… blablabla… lo beli aja bukunya, di toga mas banyak kok. Gw udah mulai mengimplementasikan nih ke diri sendiri dan lo tau ga hasilnya itu blablabla…” tanpa saya minta, dan membuat saya agak sedikit shock, dia menjelaskan panjang lebar inti dari sebuah buku yang baru dia baca.
Nyambung dengan masalah persoalan saya, sayapun dengan sigapnya curcol. Dan bagian yang paling saya ingat adalah ketika dia bilang, “di, lo tuh harus punya ego atas semua keinginan-keinginan lo.” Kesannya jadi seperti ada satu keinginan saya yang mungkin saya nampak tak berdaya untuk mengejarnya. “maksudnya?” saya bertanya untuk memperjelas. “ego bukan berarti mencederai hak orang lain, tapi karena itu semata-mata untuk menjaga kesehatan mental lo dan juga meyakini kemahakuasaan Allah,” jawab teman saya, dan makin ga pahamlah saya. “untuk membunuh perasaan/prasangka negatif itu lo harus egois. Intinya sih supaya kita semakin bergairah ketika memikirkannya, bukan malah timbul perasaan takut kehilangan, khawatir tidak akan mendapatkan. Terus lagi ya, lo harus menunjukkan 1000% kalo lo emang menginginkan itu.” Mulai paham, saya kembali bertanya,”gimana kalau sesuatu yang gw inginkan itu bersifat unik, unik disini adalah satu-satunya di dunia?” teman saya menjawab, “tolong ya, lo harus hapus dulu kata-kata ‘ga mungkin’ atau ‘ga bisa’ dari pikiran lo. Yang penting lo jangan mikirin gimana caranya. Tapi yang harus lo fokuskan adalah BAHWA LO SANGAT MENGINGINKAN ITU. That’s it.”
yap.. sekarang giliran lagunya naif. lagu ini sepertinya nggak jadi hits ya? lagu lama soalnya dan saya baru tau saat lagu ini menjadi soundtrack di sebuah ftv, diputar di radio dan saya mendengarnya saat sedang melakukan sebuah perjalanan, atau ketika berada di salah satu tempat makan? (*pilih salah satu. lupa saya) tapi sekalinya mendengar saya tau kalau itu lagunya naif. iya naif, band yang sangat mempunyai ciri khas itu.
Kekasih, Telat bulat hati Untuk ucapkan sebuah janji Bila engkau mau menanti
Bagaimana caranya aku Mengungkapkan maksud hatiku Andai engkau mau mengerti
Tuhan… Beri aku nyali Untuk mengucapkan janji Sehidup semati Aku tak ingin lagi Membuatnya menunggu untuk sesuatu yang tak pasti
[ Naif ~ Nyali] liriknya juga bagus ya..
*berharap suatu saat nanti berkesempatan untuk menyaksikan penampilan naif secara langsung